PEMALANG – Gelar Seni Budaya Kabupaten Pemalang tahun 2026 yang diadakan di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, beberapa waktu lalu menampilkan sendratari “Banyu Panguripan” oleh Sanggar Tari Srimpi dan Sanggar Pacul Goang.
Pementasan sendratari “Banyu Panguripan” yang turut disaksikan oleh Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, Wakil Bupati Nurkholes, Ketua dan Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Pemalang, dr. Noor Faizah Maenofie dan Sri Indah Lestari, kepala perangkat daerah termasuk Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Dian Ika Siswanti itu, diinspirasi oleh komitmen masyarakat Kabupaten Pemalang dalam menjaga kelestarian sumber mata air.
Bupati Anom dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kedekatan dan komitmen mendalam masyarakat Kabupaten Pemalang dalam menjaga kelestarian sumber mata air menjadi inspirasi utama di balik lahirnya karya seni tari bertajuk “Banyu Panguripan” (Air Kehidupan).
“Pentas siang hari, ‘Banyu Panguripan’, itu secara semangat mencerminkan dalam kita menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus juga bersahabat dengan alam,” ujar Bupati Anom.
Anom menegaskan bahwa pementasan ini bukan sekadar simbol di atas panggung, melainkan refleksi dari aktivitas pelestarian budaya yang terus bergelora di Kabupaten Pemalang. Pihaknya secara konsisten melakukan regenerasi budaya sejak usia dini, salah satunya melalui pembinaan sanggar-sanggar seni lokal yang aktif berkegiatan.
“Kegiatan seni budaya di Kabupaten Pemalang senantiasa bergelora sejak anak usia dini. Ini bukti bahwa masyarakat Pemalang tetap nguri-uri budaya dan melestarikannya kepada seluruh masyarakat. Tidak hanya pentas hari ini sebagai simbol, tetapi dalam kesehariannya sanggar-sanggar yang ada di Kabupaten Pemalang senantiasa berkegiatan,” kata Anom menambahkan.
Menurut Anom, menjaga kelestarian budaya dan kearifan lokal harus berjalan selaras dengan pelestarian alam. Gerakan nyata seperti dalam Misi Rhapsodi (Resik, Hijau, Apik, Peduli, Silaturahmi, Organisatoris, Digitalisasi, Ikhlas) yang rutin dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat oleh jajaran pemerintah daerah, menjadi bukti nyata bahwa semangat yang dipentaskan dalam “Banyu Panguripan” benar-benar dihidupi dalam keseharian demi kenyamanan generasi masa depan.
Pementasan yang melibatkan lebih dari 50 seniman tari dari Sanggar Tari Serimpi dan Sanggar Pacul Goang ini juga mengusung inovasi unik dengan memadukan dimensi seni tari dan seni wayang melalui penggunaan kelir. Langkah strategis ini sengaja diambil untuk menghadapi tantangan era modern, di mana pengenalan seni budaya kepada generasi muda menuntut adanya pendekatan yang kreatif dan adaptif.
Apresiasi tinggi terhadap konsistensi ini datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kasubbag Tata Usaha, Menuk Indriastuti.
Menuk menyampaikan rasa terima kasih dan pujian mendalam kepada Pemerintah Kabupaten Pemalang yang hingga kini terus menunjukkan komitmen kuat untuk saling bersinergi dengan pihak provinsi dalam merawat kebudayaan daerah.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih yang luar biasa serta apresiasi setinggi-tingginya. Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang pada hari ini, detik ini, masih bersama-sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dalam hal ini Badan Penghubung, konsisten dan berkomitmen dalam melestarikan seni budaya,” pungkas Menuk.

